PORTAL BOGOR, Parung Panjang - Konflik sopir truk dan warga Parung Panjang jadi ladang cuan. pungli (pungutan liar) tumbuh subur di sana. Para sopir diperas dan dipaksa untuk menyetor sejumlah uang demi bisa melintas bebas.

Hal itu terkuak saat Awak media ini menelusuri praktek pungli di jalur truk tambang Parung Panjang dengan cara menumpang salah satu truk tambang.

Penelusuran dimulai pada Jum'at (15/03/2024). Pewarta menumpang truk yang dikemudikan NZ (52) yang selama ini menjadi seorang supir kurang lebih sekitar 20 tahun lamanya mengatakan, saat berjalan dari arah Parung Panjang menuju Tanggerang.

Sepanjang perjalanan, NZ menceritakan  keluh kesahnya sebagai sopir truk tambang. Termasuk jadi korban pungli. Pria berambut pendek itu sudah 20 tahun menjadi sopir truk tambang di jalur Parung Panjang - Tanggerang. 

Setiap hari ia terkena pungli di jalur tersebut. Satu rit, sekali angkut Rp 10 ribu. Dalam sehari ia bisa dua sampai tiga rit. Uang yang harus dikeluarkan untuk bisa melintas Rp 30 ribu.

"Iya itu nanti di perbatasan, lihat aja nanti, diminta di sana," ungkap NZ kepada pewarta, pada Jum'at 15 Maret 2024 siang kemarin.

Benar saja, saat melintasi portal, NZ menyerahkan uang Rp 10 ribu. Uang diberikan begitu saja pada seorang pria. Pria itu tak memberikan karcis ataupun kertas retribusi apapun.

NZ yang sudah terbiasa dengan pungli itu, terpaksa memberikan uang itu agar bisa melintas. Karena jika berdebat dan melawan hanya akan mempersulit dirinya.

"Sebenernya sudah kesal. Tapi ya gimana, bisa panjang urusannya," cetusnya