PORTALBOGOR.COM, OPINI - Setiap kali saya mendengar ada orang yang berupaya memberi makan orang lain, hal itu selalu menyentuh perasaaan dihati. Entah latar belakangnya dari pemberi makan, atau dalam konteks kegiatan apapun makan diberikan, tetap selalu menyentuh hati.
Bukan karena gampang baper, tapi saya memandang tentang persoalan makan masih menjadi perhatian yang serius.
Tidak sedikit tindakan kejahatan dilakukan hanya karena perut kosong, atau peran seseorang justru tidak menjadi maksimal karena belum makan sehingga dirinya tidak bisa fokus.
Tindak Kejahatan Karena Kelaparan : Belajar Dari Warga Kelas III
Di Bogor misalnya, pada September lalu ada pemuda yang nekat mencuri kotak amal masjid yang ternyata dilakukan karena dirinya kelaparan. Kejadian itu di Citeureup, aksi pencurian itu kepergok oleh pengurus masjid hingga ternyata pelaku diberi makan setelah diketahui motif pencuriannya karena kelaparan.
Pemuda itu pun diberi makan sampai menghabiskan satu piring penuh, tambahan berupa roti juga dimakan hingga habis, bahkan kue dilahap sampai setengah kaleng. Pulangnya, si pelaku diberikan ongkos oleh pengurus masjid.
Di Tangerang Selatan, seorang ibu usia 44 tahun kepergok mencuri telur di minimarket hanya demi bisa memberi makan 3 anaknya dirumah. Ibu itu pun mengaku terpaksa mencuri telur untuk 3 anaknya yang kelaparan.
Suami ibu itu bekerja sebagai ojek online, dan mereka tinggal di kontrakan yang sederhana. Walaupun pihak minimarket melaporkan pencurian itu ke kepolisian, beruntung pihak kepolisian melakukan restorative justice. Pihak kepolisian menyelesaikan kasus itu dengan kekeluargaan dan langsung memberi sembako untuk ibu tersebut.
Terakhir di Parung Panjang, aksi mogok supir truk tambang dilakukan karena tak terima dengan pemberlakuan jam operasional oleh Pemkab Bogor. Sedangkan para supir dituntut oleh pihak perusahaan dengan targetan waktu yang sempit. Akhirnya para supir melakukan aksi mogok yang membuat kemacetan panjang di jalan raya.